Waspadai Pancaroba di Lingkungan Kita

Akhir-akhir ini cuaca di sekitar kita sering berubah-rubah terutama di kawasan Garut Selatan kadang hujan angin sepanjang hari. Ada yang mengatakan ini menjadi tradisi alam ketika mendekati pergantian tahun, orang Sunda menyebutnya “babaru”. Iklim tak menentu ini disertai angin, hujan, bahkan panas juga terjadi. Menurut kajian Team 08 ini merupakan peralihan musim atau dengan istilah lain “pancaroba”.

Masa peralihan antara dua musim utama di daerah iklim muson, yaitu di antara musim penghujan dan musim kemarau. Masa pancaroba biasa ditandai dengan frekuensi tinggi badai, hujan yang sangat deras disertai guruh, serta angin yang bertiup kencang.

Pohon Tumbang diterjang Angin Kencang


Masyarakat diingatkan untuk waspada terhadap sejumlah bencana yang mengancam pada masa pancaroba alias peralihan dari musim kemarau ke musim hujan yang terjadi saat ini. Bencana angin kencang merupakan salah satu yang paling rawan terjadi.

Musim pancaroba adalah musim peralihan dari satu musim ke musim yang lain, biasanya terjadi pada bulan Maret sampai April (yang merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau) dan pada bulan Oktober sampai Desember (peralihan dari musim hujan ke musim kemarau).

Sebut saja di daerah Kecamatan Pamulihan dan sekitarnya pada malam pergantian bulan November ke Desember (30/11/2017). Ketika itu malam Jum’at pengguna frekuensi di Lokal delapan 14.346 Mhz sambil memantau kedaaan cuaca yang sedang terjadi. Tak pelak frekuensi terdengar “lup-lep” seiring derunya angin menghantam Antena.

Malam Jum’at mencekam diiringi derunya angin kencang menghantam pohonan dan rumah-rumah penduduk. Suaranya bergemuruh menggunung. Situasi ini dipantau langsung oleh saudara ketua RAPI Lokal 08 Asep Tatang (JZ 10 SEF).

Esok paginya terpantau di Desa Linggarjati kurang lebih dari Lima rumah yang rusak ditambah Kantor Desa tertimpa pohon petai. Jalur Linggarjati menuju Panyindangan tepatnya di Tanjung Berem dan sekitar badan jalan tertutup tanaman. Pohon kayu yang terbilang besar itu tumbang menutupi badan jalan. Berikut daftar rumah yang tertimpa pohonan akibat angin kencang malam jum’at tersebut. Desa Linggarjati sekitar kp ampung Cilimus ada 4 rumah, kp Tamiangkuning ada 1 rumah, kp Pasirgaru ada 1 rumah. Sementara di Desa Garumukti ada sepuluh rumah tertimpa pohon, bahkan kantor desa dilaporkan rusak parah dan satu mesjid habis atapnya diakibat angin kencang sekitar pukul 22.30 WIB.

Kejadian malam tersebut sempat panik warga sekitar, beruntung tidak ada korban jiwa.

Atas kejadian akhir-akhir ini Ketua RAPI Lokal 08 menghimbau kepada anggota dan masyarakat untuk tetap waspada terutama penghuni rumah yang di luar rumahnya ada pepohonan yang tinggi-tinggi.

Selain itu, musim pancaroba ditandai dengan angin kencang, hujan yang datang secara tiba-tiba dalam waktu singkat, puting beliung, udara yang terasa panas, serta arah angin yang tidak teratur ini berdampak pada kondisi badan kita. Efek musim pancaroba ini dikaitkan dengan datanya berbagai jenis penyakit seperti asma, sakit kepala, flu, hingga sakit pada persendian.

“Semoga kita tetap waspada, antisipasi lebih baik”, imbuh Asep ketika dikonfirmasi Team 08.

Budi Firdaus, memiliki akun budfir@gmail.com ini aktif di organisasi komunikasi RAPI. Sejak berdirinya RAPI Lokal 08 Garut Selatan sudah dipercaya sebagai aktivis penulis di organisasi. Masa bakti kedua dipercaya sebagai sekretaris umum dan masa bakti 2015-2017 pernah menjadi ketua lokal 08 Garut Selatan. Sekarang di organisasi dipercaya sebagai Dewan Pembina dan Penasehat Lokal sebagai koordinator DP2OL. Pasang surut sebuah organisasi dapat terlihat oleh tiga hal. Pertama keaktifan anggota dalam berkomunikasi di frekuensi, seberapa jauh kita bermanfaat bagi orang lain. Kedua, Kesadaran dalam memperpanjang keanggotaan (KTA), ketiga, kesadaran dalam bersilaturahmi dalam berbagai jenjang organisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: